
Karya-karyanya yang didalami dari pengalaman ruhaninya.
Merupakan salah satu dasar paham Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani.
Faham Wahdatul Wujud ini dianut oleh Abu Hafas Al Naisabur, Abu Sa'id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi
Sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh Muhammadan al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, Al Qusyairi dan Imam al Ghazali dan Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa'i.
Dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut sebagai sufi pertama yang membawa faham ittihad dalam arti seseorang telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, karena kesadarannya telah lebur bersatu dengan eksistensi Tuhan.
Munculnya paham ini telah menimbulkan sikap dan pandangan yang mendukung dan yang menentang di kalangan ulama. Tulisan ini berupaya mengkaji persoalan ini dalam sudut pandang pemahaman dunia tasawuf.
by Ilmu Tasawuf | 
in
zikir
at 3:37 AM
Adapun Aqa'idul Iman itu lima bagian:
1. Aqa'idul Iman 50, yaitu dengan ringkas untuk membuktikan kesetiaan kita dan wajib diketahui untuk tiap-tiap orang islam yang baligh lagi beraqal laki-laki atau perempuan yang mulai ingin mengerjakan ibadah kepada Allah Ta'ala, jikalau tidak kita mengetahui Aqa'idul Iman yang singkat ini maka tiadalah syah ibadah kita kepada Allah Ta'ala yaitu 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil dan 1 sifat yang harus maka dijumlahkan jadi 41 dan 4 sifat yang wajib bagi rasul dn 4 sifat pula yang mustahil dan 1 sifat yang harus pada rasul maka jadi 9, maka dijumlahkan dengan 41, jadi 50 Aqa'id
2. Aqa'idul Iman 60
3. Aqa'idul Iman 64
4. Aqa'idul Iman 66
5. Aqa'idul Iman 68
Adapun Aqa'idul Iman yang empat (4) kemudian ini untuk ma'rifat yaitu untuk membedakan dzat Allah Ta'ala dengan dzat yang baru, dan membedakan sifat Allah Ta'ala dengan sifat yang baru dan membedakan perbuatan Allah Ta'ala dengan perbuatan yang baru, maka semuanya itu benar, hanya perselisihannya pada Rukun Iman saja, sebagian tidak dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara, maka jadi 60, sebagian dimasukkan Rukun Iman tetapi tidak dimasukkan lawannya, maka jadi 64, dan sebagian dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara dan lawannya , maka jadilah 68 dan yang 66 tidak terkenal karena tidak dimasukkan satu (1) sifat yang wajib bagi Rasul dan lawannya maka inilah sebab menjadi 66.
Maka barulah jadi Syahadat itu dua (2) bagi:
1. Syahadat Tauhid, yaitu Ashadu anllaa ilaha ilallah
2. Syahadat Rasul, yaitu Ashadu ana muhammadarrasuulullaah
Adapun Fardhu Syahadat itu dua hal:
1. Diikrarkan dua kalimat itu dengan lidah
2. Ditasdiqkan makna itu kedalam hati
Persyaratan Syahadat itu empat perkara:
1. Diketahui apa isi didalam dua kalimat itu
2. Diikrarkan dua kalimat itu dengan lidah
3. Ditasdiqkan maknanya itu kedalam hati
4. Diyakinkan sungguh-sungguh dalam hati
Rukun Syahadat itu empat perkara:
1. Mengisbatkan dzat Allah Ta'ala dzat yang wajibal ada
2. Mengisbatkan sifat Allah Ta'ala sifat yang kamalat atau sifat yang kesempurnaan
3. Mengisbatkan af'al Allah Ta'ala memberi bekas dan yang terjadi dalam alam ini semua perbuatannya
4. Mengisbatkan kebenaran Rasulullah dan Muhammad itu benar-benar utusan Allah
Kesempurnaan Syahadat itu empat (4) hal:
1. Diketahui
2. Diikrarkan dengan lidah
3. Ditasdiqkan maknanya didalam hati
4. Dilakukan dari dalam hati sampai melimpah keseluruh anggota
Yang Merusak Syahadat itu empat (4) hal:
1. Syak hatinya pada Allah Ta'ala
2. Menduakan Allah Ta'ala
3. Menyangkal dirinya dijadikan Allah Ta'ala
4. Tidak mengisbatkan dzat, sifat dan af'al Allah Ta'ala dan kebenaran Rasul
Adapun dzikir itu tiga (3) bagian
1. Dzikir lidah yaitu: Laa ilaha ilallah
2. Dzikir hati yaitu: Allah
3. Dzikir sirr yaitu: Huwa
Adapun Laa ilaha ilallaah dzikir orang Syari'at
Adapun Allah ... Allah ... dzikir orang Tarikat
Adapun Huwa ... Huwa ... dzikir orang Hakikat
Laa ilaha ilallaah itu makanan Jasmani
Allah ... Allah ... itu makanan Qalbu
Huwa ... Huwa ... itu makanan Ruhani
ALLAH
Alif = Dzat
Lam = Sifat
Lam = Af'al
Ha = Asma '
by Ilmu Tasawuf | 
in
Muhammad
at 3:29 AM
SIFAT-SIFAT KETUHANAN
Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:
1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud
2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat
3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam
4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun
Dibagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)
1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun
2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah
Bagian I: Sifat Nafsiyah:
Wujud, artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.
Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu kullu syai’in
artinya, Allah Ta’ala jugalah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.
Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruhu, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna
Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.
Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.