by anumu anuku anu anuan | 
in
lucu lucu
at 1:07 AM
Cowok Idaman
Cewek : "Mas kerja dimana?"
C0w0k : "Saya cuma usaha
beberapa hotel bintang 4 dan 5
di Jakarta dan Bali..."
Cewek : "(W0W...Konglomerat
pasti!)... Mas tinggal dimana?"
C0w0k : "Pondok Indah Bukit
G0LF..."
Cewek : "(W0W kereenn...Rumah
0rang-0rang "The Haves") Pasti
gede rumahnya yah...?"
C0w0k : "Ngga ah...Biasa aja
koq...cuma 3000 m2..."
Cewek : "(Busett!) Pasti
mobilnya banyak yah...?"
C0w0k : "Sedikit koq...Cuma ada
Ferrari. Jaguar. Mercedes. BMW.
Mazda..."
Cewek : "(Wah c0w0k idaman
gue nihh!!) Mas uda punya
istri...?"
C0w0k : "Hmm...Sampai saat ini
belum tuh...hehe..."
Cewek : "(Enak juga nih kalu
gue bisa jadi bininya...) Mas
mer0k0k??"
C0w0k : "Tidak...r0k0k itu tidak
bagus untuk kesehatan tubuh..."
Cewek : "(Wah sehat nihh!) Mas
suka minum-minuman keras?"
C0w0k : "Tidak d0nk..."
Cewek : "(Gilee...Cool abissss!!)
Mas suka maen judi??"
C0w0k : "Nggak...ngapain juga
judi? ngabisin duit aja"
Cewek : "(0oohhhh...So sweett...)
Mas suka dugem gitu ga??"
C0w0k : "Tidak tidak..."
Cewek : "(Iihh...sh0leh banget
nih c0w0kk!) Mas udah naik
haji?"
C0w0k : "Yah...baru 3x dan
umr0h paling 6x..."
Cewek : "(Subhanallah...cal0n
surgawi...) H0binya apa sih
mas?"
C0w0k : "BOH0NGIN 0rang......"
by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 10:21 AM
Siapa yang menemukan kebenaran, pasti akan menemukannya. Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), yaitu pengalaman Salman Al Farisy
Marilah kita centang Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, rinci dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw.
Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhuma berkata, "Salman al-Farisi Radliyallahu' Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman," Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak lahir. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga karena teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.
Aku mengabdi dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami agar api tersebut menyala.
Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Karena itu ia tinggal di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapak pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Ia berkata kepadaku, "Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapak.''
Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang shalat. Suara itu sangat menarik perhatianku.
Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Karena selama ini aku dikurung ayah di rumah, tidak bisa bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka shalat dan ingin bergabung.
Kataku, "Demi Allah! Ini lebih bagus dari agama kami." Aku tidak beranjak dari gereja itu sampai petang. Sehingga aku lupa untuk ke kebun.
Aku bertanya kepada mereka, "Dari mana asal agama ini?"
"Dari Syam (Suriah)," jawab mereka.
Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.
Jawabku, "Ya, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka shalat. Belum pernah aku melihat cara orang shalat seperti itu. Karena itu aku berada di gereja mereka sampai sore."
Bapa menasehati akan perbuatanku itu. Katanya, "Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!"
Jawabku, "Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita."
Bapa khawatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Karena itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.
Ketika aku mendapat kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memberitahukan kepadaku andai ada kafilah yang akan ke Syam untuk memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang ke mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.
Maka aku berusaha untuk membebaskan diri dari rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.
Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, "Siapa kepala agama Nasrani di sini?"
"Uskup yang menjaga" jawab mereka.
by Ilmu Tasawuf | 
in
wisata
at 9:39 AM
Kita selalu merujuk diri kita AKU. Kita berkata, "Ini Aku", "Ini Aku punya", "Ini tubuh Aku", "Nama Aku si-anu", dan "Nama ayah Aku si-anu", dan sebagai nya.
Pernahkah kita berpikir siapakah AKU kita itu? Apakah AKU kita itu? Siapa sebenarnya AKU itu?
Maka di sini penulis untuk menguraikan berkenaan AKU ini menurut pendapat dan pandangan Filsafat kesufian
Risalah ini berisi penjelasan tentang AKU. Dari penjelasan atau penjelasan ini pembaca akan dapat sedikit banyak informasi tentang apa dan siapa sebenarnya AKU kita itu.
Selamat membaca dan memahaminya.
Penjelasan ke 1 (SIAPAKAH AKU)
Pernahkah Anda berpikir siapakah AKU itu?
Pernahkah Anda terbayang apakah AKU kita itu?
Sebenarnya AKU kita ini adalah ROH kita, bukan badan kasar ini. Badan kasar ini akan mati jika tidak ROH. Jika tidak ROH, badan kita akan hancur binasa.
ROH kita inilah diri kita yang sebenarnya,. ROH ini hidup dan tidak akan mati. ROH inilah juga zat diri kita.
ROH ini juga limpahan Yang Maha Hidup yaitu Allah SWT. Allah itu hidup. Dia memiliki sifat hidup. Maka hidup (ROH) kita adalah limpahan dari hidup Allah itu.
ROH ini juga digelar "bayangan" Yang Maha Hidup itu. ROH itu bayang kepada Yang Empunya Bayang. Yang Empunya Bayang itu adalah Allah, dan ROH kita itu adalah "bayangan" Allah itu. Demikian pendapat-pendapat anggota-anggota Sufi.
Allah itu tidak kelihatan, Maha Gaib dan tidak ada satu pun yang seperti denganNya. Bagaimana kita dapat tahu adanya sesuatu yang tidak terlihat dan tidak terperikan. Ibarat angin, kita tidak nampak angin, tetapi bagaimana kita tahu angin sedang bertiup dan angin itu ada? Jawabnya, kita tahu adanya angin itu karena ada dampaknya. Kapan daun pohon bergoyang, kita tahu angin sedang bertiup. Kalau kita rasa hembusan, maka itu adalah hembusan angin, dll. Goyangan daun dan rasa hembusan itu adalah tanda-tanda adanya angin. Kita tidak nampak angina tetapi kita tahu adanya angina melalui tanda-tandanya.
Demikian juga keadaannya dengan Allah SWT. Kita tidak nampak Dia, tetapi kita rasa dan percaya adanya melalui tanda-tandanya. Tanda-tanda Allah itu adalah alam semesta raya ini. Tanda-tanda ini dalam bahasa Arab adalah "ayat".
Oleh itu, alam semesta raya dan diri kita ini adalah ayat-ayat Allah belaka.
ROH sangat tinggi martabatnya, melebihi tingkat malaikat. Tempatnya di sisi Allah yang Maha Tinggi. ROH inilah yang mengenang Allah (dzikrullah) seolah-olah kerjanya mengenang Allah saja. Seolah-olah makan minumnya "zikrullah" saja.
ROH yang suci ini senantiasa mentauhidkan Allah Yang Maha Suci. Najis padanya adalah menyekutukan Allah. ROH ini sangat cinta kepada Allah SWT. Ia memuja dan memuji Allah selalu. Allah itu kekasihnya. Cukuplah Allah itu baginya.
Demikian hubungan Allah dengan ROH, menurut pandangan ahli-ahli Sufi.
Penjelasan ke-2 (AKU IALAH ROH)
Tahukah Anda bahwa AKU Anda itu adalah ROH yang datang dari Allah, hidup dengan Allah, dan kembali kepada Allah. Allah itulah pangkalan tempat bertolak, lautan yang dilayari dan pelabuhan tempat berhenti.
Jika dikaji dalam-dalam Anda akan sadar dalam pandangan spiritual bahwa Allah itu adalah tempat awal perjalanan kita. Dialah tempat perjalanan itu sendiri, dan Allah itu jugalah tujuan akhir perjalanan hidup ini.
Tempat bertolak, perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan disini bukanlah dari segi pandangan fisik yang tunduk kepada ruang dan waktu. Tempat perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan di sini iailah dari segi pandangan spiritual, perasaan dan khayali (thought) kita.
AKU atau ROH kita adalah tanda-tanda atau ayat-ayat Allah. ROH itu juga bayangannya dan penzahiranNya. Dari segi pandangan spiritual, Allah itulah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Batin dan Yang Zahir.
Penjelasan ke-3 (PANDANGAN AKU)
AKU yang paling dalam itu bersifat spiritual. Jika AKU itu dibersihkan pandangannya melalui dzikrullah dan pelatihan spiritual orang-orang Sufi, maka AKU itu akan mencapai satu tahap pandangan dimana ia rasa ada yang adalah Esa juga. Menurut pandangan ini, ada itu ada bertingkat-tingkat, bertahap-tahap, dan berbagai aspek, namun ia tetap satu. Segala yang ada terlihat, baik yang lahir maupun yang batin, semuanya satu wujud saja, pada hakikatnya. Inilah pandangan AKU yang paling dalam.