Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label ilmu tauhid. Show all posts
Showing posts with label ilmu tauhid. Show all posts

Tuesday, November 29, 2011

ILMU TAUHID | AQAI'DUL IMAN

by Ilmu Tasawuf  |  in zikir at  3:37 AM
Adapun Aqa'idul Iman itu lima bagian:

1. Aqa'idul Iman 50, yaitu dengan ringkas untuk membuktikan kesetiaan kita dan wajib diketahui untuk tiap-tiap orang islam yang baligh lagi beraqal laki-laki atau perempuan yang mulai ingin mengerjakan ibadah kepada Allah Ta'ala, jikalau tidak kita mengetahui Aqa'idul Iman yang singkat ini maka tiadalah syah ibadah kita kepada Allah Ta'ala yaitu 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil dan 1 sifat yang harus maka dijumlahkan jadi 41 dan 4 sifat yang wajib bagi rasul dn 4 sifat pula yang mustahil dan 1 sifat yang harus pada rasul maka jadi 9, maka dijumlahkan dengan 41, jadi 50 Aqa'id

2. Aqa'idul Iman 60

3. Aqa'idul Iman 64

4. Aqa'idul Iman 66

5. Aqa'idul Iman 68

Adapun Aqa'idul Iman yang empat (4) kemudian ini untuk ma'rifat yaitu untuk membedakan dzat Allah Ta'ala dengan dzat yang baru, dan membedakan sifat Allah Ta'ala dengan sifat yang baru dan membedakan perbuatan Allah Ta'ala dengan perbuatan yang baru, maka semuanya itu benar, hanya perselisihannya pada Rukun Iman saja, sebagian tidak dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara, maka jadi 60, sebagian dimasukkan Rukun Iman tetapi tidak dimasukkan lawannya, maka jadi 64, dan sebagian dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara dan lawannya , maka jadilah 68 dan yang 66 tidak terkenal karena tidak dimasukkan satu (1) sifat yang wajib bagi Rasul dan lawannya maka inilah sebab menjadi 66.

Maka barulah jadi Syahadat itu dua (2) bagi:

1. Syahadat Tauhid, yaitu Ashadu anllaa ilaha ilallah

2. Syahadat Rasul, yaitu Ashadu ana muhammadarrasuulullaah
Tautan
Adapun Fardhu Syahadat itu dua hal:

1. Diikrarkan dua kalimat itu dengan lidah

2. Ditasdiqkan makna itu kedalam hati

Persyaratan Syahadat itu empat perkara:

1. Diketahui apa isi didalam dua kalimat itu

2. Diikrarkan dua kalimat itu dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya itu kedalam hati

4. Diyakinkan sungguh-sungguh dalam hati

Rukun Syahadat itu empat perkara:

1. Mengisbatkan dzat Allah Ta'ala dzat yang wajibal ada

2. Mengisbatkan sifat Allah Ta'ala sifat yang kamalat atau sifat yang kesempurnaan

3. Mengisbatkan af'al Allah Ta'ala memberi bekas dan yang terjadi dalam alam ini semua perbuatannya

4. Mengisbatkan kebenaran Rasulullah dan Muhammad itu benar-benar utusan Allah

Kesempurnaan Syahadat itu empat (4) hal:

1. Diketahui

2. Diikrarkan dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya didalam hati

4. Dilakukan dari dalam hati sampai melimpah keseluruh anggota

Yang Merusak Syahadat itu empat (4) hal:

1. Syak hatinya pada Allah Ta'ala

2. Menduakan Allah Ta'ala

3. Menyangkal dirinya dijadikan Allah Ta'ala

4. Tidak mengisbatkan dzat, sifat dan af'al Allah Ta'ala dan kebenaran Rasul

Adapun dzikir itu tiga (3) bagian

1. Dzikir lidah yaitu: Laa ilaha ilallah

2. Dzikir hati yaitu: Allah

3. Dzikir sirr yaitu: Huwa

Adapun Laa ilaha ilallaah dzikir orang Syari'at

Adapun Allah ... Allah ... dzikir orang Tarikat

Adapun Huwa ... Huwa ... dzikir orang Hakikat

Laa ilaha ilallaah itu makanan Jasmani

Allah ... Allah ... itu makanan Qalbu

Huwa ... Huwa ... itu makanan Ruhani

ALLAH

Alif = Dzat

Lam = Sifat

Lam = Af'al

Ha = Asma '

ILMU TAUHID | MENYELAMI SIFAT 20

by Ilmu Tasawuf  |  in Muhammad at  3:29 AM
SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

Bagian I: Sifat Nafsiyah:

Wujud, artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.

Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:

Allahu kholiqu kullu syai’in

artinya, Allah Ta’ala jugalah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.

Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruhu, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna

Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.

Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.

Sunday, November 27, 2011

ILMU TAUHID | PENDAHULUAN AWAL

by Ilmu Tasawuf  |  in tauhid at  10:26 PM
Ilmu tauhid adalah ilmu yang penting ... sangat penting ... malah yang terpenting! Gagal ilmu tauhid berarti gagallah yang lain-lain. Tapi dalam dunia hari ini, pelajaran ilmu tauhid semakin terpinggirkan. Sebagian besar para da'i sendiri mengabaikan ilmu ini dengan hanya mengambil yang dasar saja. Mereka rasakan 'yang dasar' itu sudah cukup lalu mereka tumpukan usaha mereka ke gerak kerja dakwah. Bila kita mendengar percakapan mereka atau kita membaca tulisan-tulisan mereka, barulah kita sadar yang mereka bermasalah dalam tauhid. Sayangnya .... mereka sendiri tidak sadar yang tauhid mereka bermasalah. Kalau tauhid kader sendiri banyak yang bermasalah, kita yang orang awam ini bagaimana?

Tentulah lebih banyak masalahnya! Sebab itulah para ulama terdahulu sangat menekankan ilmu tauhid.


PENGENALAN AWAL

Persoalan mentajdid diri, keluarga, masyarakat dan umat sering diutarakan dalam blog-blog website. Rekomendasi baru, rekomendasi pemulihan dan rekomendasi 'meningkatkan efektivitas' silih berganti menghiasi halaman depan tetapi urusan akidah kurang disentuh. Sebagian browser mungkin bertanya-tanya, mana tulisan tentang tauhid? Bukankah ia persoalan dasar lagi utama?

ILMU TAUHID | PENDAHULUAN MUDAH

by Ilmu Tasawuf  |  in usuluddin at  10:02 PM
Kutipan: Mulai Mu'alim yang bernama [Abdul Karim bin Muhammad Nur] menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan seluruh murid beliau yang ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu), mudah-mudahan Allah meridhai dan mengizinkan saya mengutarakannya dalam blog ini tanpa melanggar adab.

Bismillahirrahmanirrahiim ...

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu 'Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya: yaitu diterbitkan dari Qur'an dan Hadits

3. Isinya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas kewajiban pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-Nya, dari beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil agar diperoleh i'tikad yang yakin (keyakinan yang putus / Jazam sekira-kira menaikkan perasaan / Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu'nya ke empat tempat:

a. Pada Zat Allah Ta'ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

b. Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

c. Pada segala kejadian dari segi materi dan massa dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil untuk ada yang membuat dia

d. Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar dari berita rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Manfaat ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Rasio ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini adalah ilmu yang terbangsa kepada agama islam dan yang paling utama sekali dalam agama islam.

7. Orang yang mengirimkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang mengirimkan tetesan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak kata meraka yang melanggar adalah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid dari Allah Ta'ala adalah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhirnya Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu 'ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus di Allah Ta'ala dengan jalan ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu dari ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi: Innallahata'ala lam yafrid syai'an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai'an afdola mintu laf tarodohu 'ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu, artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol dari mengesakan Allah. Jika ada sesuatu terlebih afdhol dari niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah dari malaikatnya itu ada yang ruku 'selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia, yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu'nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara i'tikad dan keyakinan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya

Ilmu Tauhid

Adapun tambahan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga hal:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Kabar Mutawatir, yaitu Kabar yang turun menurun. Adapun kabar mutawatir itu dua untuk:

a. Kabar Mutawatir yang datang dari lidah orang banyak

b. Kabar Mutawatir yang datang dari lidah rasul-rasul

3. Isinya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas kewajiban pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-Nya, dari beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil agar diperoleh i'tikad yang yakin (keyakinan yang putus / Jazam sekira-kira menaikkan perasaan / Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

Aqal

Adapun 'Aqal itu dua bahagi:

1. 'Aqal Nazori, yaitu akal yang membutuhkan pikir dan keterangan.

2. 'Aqal Doruri, yaitu akal yang tidak membutuhkan pikir dan keterangan.

Adapun Hukum 'Aqal itu tiga bahagian:

1. Wajib 'Aqal, yaitu barang yang tidak diterima oleh akal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af'al Allah)

2. Mustahil 'Aqal, yaitu barang yang tidak diterima oleh akal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan dari sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus 'Aqal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baru / diciptakan)

Mumkinun (Baru Alam)

Adapun yang wajib untuk 'Alam mengandung empat hal:

1. Materi, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Massa, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tidak sama luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tidak bisa dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Massa yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib untuk Jirim, Massa, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, depan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berkumpul atau bercerai

4. Memakai 'Arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk

Hukum Adat Thobi'at

Adapun yang wajib untuk hukum adat Thobi'at yang dilakukan dalam dunia ini saja, seperti makan, saat makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api saat menyentuh kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang saat dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi'at itu tidak sekali-kali seperti makan tidak kenyang, minum tidak hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tidak putus atau luka dan dimasukkan dalam api tidak terbakar. Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah terjadi pada nabi Ibrahim as di dalam api tidak terbakar dan pada nabi Isma'il as dipotong dengan pisau yang tajam diada putus atau luka.

Adapun yang mustahil pada adat itu jika terjadi pada rasul-rasul disebut Mu'jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta'at dinamakan Ma'unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah yaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa'uzah yaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir yaitu pada tukang sihir

Mohon ampunan dan RedhaMu yaa Allah, ...

Itulah yang telah terdahulu banyak hamba ungkapkan (terlanjur) di topik-topik yang ada dalam BSC ini, untuk selanjutnya hamba, Insya Allah, akan meminta izin dahulu kepada Mu'alim hamba, sebab ada beberapa uraian penting yang hamba wajib meminta izin dahulu pada beliau , diantaranya: Hukum Syara ', Hakikat Makrifat beserta uraian dalil untuk Sifat-Sifat yang wajib untuk' akal tentang keTuhanan:

-Sifat nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma'ani

-Sifat ma'nawiyah

lalu dibagi menjadi dua untuk:

-Sifat Istighna (28 Aqa'id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa'id)

yang menghasilkan paham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa'id), lalu berlanjut pada uraian Sifat-sifat untuk Rasul, ditambahkan empat hal rukun iman (18 Aqa'id), menghasilkan penjelasan aqa'idul iman yang 5 (lima jenis), aqa'idul iman 50, aqa'idul iman 60, aqa'idul iman 64, aqa'idul iman 66 dan aqa'idul iman 68.

Barulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

InsyaAllah ....

Ma'rifat

Adapun hakikat Ma'rifat itu berhimpun atas tiga hal:

1. 'Itikad Jazam, yaitu' itikad yang putus tidak diragukan, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya menurut Al Qur'an dan Hadits

3. Mu'addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur'an dan Hadits.

2. Dalil akal (aqli), yaitu aqal kita

Adapun dalil wujud Allah Ta'ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an: Allahu khaliqu kullu syai'in, artinya: Allah Ta'ala yang menjadikan segala sesuatu

Adapun Hakikat Ma'rifat orang yang Khawas:

1. 'Itikat jazam, tidak diragukan, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil di dirinya, seperti firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu Tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma'rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I'tikad jazam, tidak sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia dari dalil yakni tidak berkehendak lagi kepada dalil (Aqal dhoruri) terus ia ma'rifat kepada Allah Ta'ala.

Adapun Ma'rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. 'Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

Proudly Powered by Blogger.