by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 1:01 AM

Silsilah tariqat Naqshbandi dimulai dari Khalifah - pengganti - Rasulullah (saw) yang pertama yaitu, Abu Bakar Siddiq, sahabat paling rapat dan pengikut paling shttp://www.blogger.com/img/blank.gifetia Rasulullah (saw). Pewaris kepada beliau pula adalah Salman al-Farsi, dari Persia. Salman al-Farisi adalah seorang sahabat yang sejak dai mudanya saat di Persia, selalu menemukan para ulama dan para'ariffin '(mereka yang arif tentang ilmu ketuhanan), pria maupun wanita untuk menuntut ilmu dari mereka, sampai akhirnya beliau bertemu dengan orang yang dicari -carinya yaitu, Nabi dan Rasul pada zamannya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam. Pewaris kepada beliau pula adalah, Qassim bin Muhammad bin Abu Bakar, cucunda kepada Abu Bakar Siddiq, yang telah disebut diatas tadi. Selanjutnya, rahasia praktek kesufian tariqat Naqshbandi ini pula diwarisi oleh Imam besar, Imam para 'Arifin' dan Indikator Jalan Ketuhanan pada zamannya yaitu Jaf'ar as-Sadiq, orang yang Dipercaya. ! Beliau diakui sebagai Imam besar jalan ketuhanan oleh orang Islam yang berpaham Sunni (ahlussunnah wal jama'ah) dan juga yang berpaham Shi'a, Yahudi dan juga Kristen. Ia merupakan generasi kelima keturunan Rasulullah (saw) dan beliau mewarisi rahasia ilmu kesufian / ketuhanan ini dari keluarga ibunya yang merupakan keturunan Abu Bakar dan juga dari keluarga ayahnya yang merupakan keturunan Nabi Muhammad melalui anak kesayangan beliau (saw), Fatimah.
Bayazid al Bistami pula merupakan pewaris as-Sadiq dalam silsilah tariqat yang kaya dengan rahasia ilmu ketuhanan / kesufian ini. Kakek Bayazid merupakan seorang majusi (penyembah api). Kehidupan zuhud yang menjadi praktek Bayazid tidak tertandingi. Ia merupakan anggota Sufi yang pertama yang mengutarakan konsep fana'un fillah (binasanya makhluk - sesungguhnya Allah juga yang ada dan yang kekal).

Karya-karyanya yang didalami dari pengalaman ruhaninya.
Merupakan salah satu dasar paham Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani.
Faham Wahdatul Wujud ini dianut oleh Abu Hafas Al Naisabur, Abu Sa'id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi
Sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh Muhammadan al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, Al Qusyairi dan Imam al Ghazali dan Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa'i.
Dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut sebagai sufi pertama yang membawa faham ittihad dalam arti seseorang telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, karena kesadarannya telah lebur bersatu dengan eksistensi Tuhan.
Munculnya paham ini telah menimbulkan sikap dan pandangan yang mendukung dan yang menentang di kalangan ulama. Tulisan ini berupaya mengkaji persoalan ini dalam sudut pandang pemahaman dunia tasawuf.
by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 10:28 AM
Istilah sufi sangat terkait dengan "bersih", "suci", "shaf (barisan depan)", "bulu (pakain bulu)", "suffah".
1. Ahli sufi disebut sufi karena kebersihan (suffa) hati mereka dan kesucian praktek dan tindak tanduk mereka. Mereka disebut sufi karena mereka menyerupai anggota suffah yang hidup di zaman Nabi SAW.
2. Orang Sufi adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas (suffa) terhadap Allah.
3. Mereka adalah orang-orang yang duduk di barisan depan (suffa) sekali di hadirat Allah, melalui kecintaan mereka kepada Allah, tetap berhadap hati mereka kepada Allah, dan tetap lubuk hati (sirr) mereka berhadap Allah.
4. Berkenaan dengan pakaian bulu itu hanya pakain lahir saja. "Mereka disebut sufi karena tabiat mereka suka memakai pakaian dari bulu (suff)." "Pakaian bulu adalah juga pakaian para anbia dan aulia". Hadis. "70 orang Nabi yang terdahulu yang lalu dekat dengan batu diRuhaasan. Mereka berkaki ayam dan berpakaian bulu dan menuju ke Ka'bah". Hadis. "Musa alaihissalam memakai pakaian bulu, makan buah-buahan, tidur pada malam hari di mana saja ia ingin tidur". al Hassan al Basri. "Nabi SAW berpakain bulu, menunggang keledai, dan menerima orang-orang daif untuk makan bersama". Abu Musa al Ash'ari. "Saya mengetahui ada 70 orang yang terlibat dalam perang Badar memakai pakaian bulu". Al Hassan Al Basri.
5. Kehidupan mereka ala kadarnya. Dunia dan keduniaan sudah tidak penting dan diutamakan oleh mereka. "Bila Nur sudah masuk ke dalam hati maka ia akan membesar dan berkembang". Sahabat bertanya, "Apakah tandanya ya Rasul Allah?" "Meninggalkan negeri yang fana 'dan berpaling ke negeri yang baqa', dan siap untuk MATI sebelum mati (bercerai nyawa dengan tubuh)". "Bahkan kamu lebih menginginkan dunia, sedangkan akhirat lah yang terlebih baik dan terlebih kekal". (AL A'ALA: 17 & 18.7.)
Cara hidup orang sufi ini telah dimulai sejak zaman sebelum Nabi SAW, zaman Nabi SAW dan sesudahnya. Tidak timbul satu Firman atau Hadits yang menghukumkan, wajib disyariatkan atau dilakukan karena, telah terang untuk orang yang mendapat petunjuk, bahwa INTISARI QURAN DAN HADIS itu sendiri telah tersemai kokoh, sebati dan sejalan dengan diri mereka. Sampai Nabi SAW sendiri selalu beserta mereka. Nabi SAW mengungkapkan, aktivitas itu tidak dipengaruhi dunia, harus ada bukti dan kenyataan. Nabi pernah bertanya kepada Sahabat Haritsah. "Apakah hakikat Iman?" Beliau jawab. "Saya telah jauhkan hati saya dari dunia, saya puasa di siang hari dan berjaga di malam hari, dan seolah-olah saya lihat 'Arasy Tuhanku datang, seolah-olah anggota surga kunjung mengunjungi satu sama lain dan anggota neraka bermusuhan satu sama lain ". (perhatikan tentang 'Arasy Allah dan syorga dan neraka yang dilihat oleh Sahabat Haritsah. Hal ini tidak dibantah oleh Nabi SAW).
Arti sufi yang dimaksudkan oleh saya dalam blog ini adalah
Orang-orang sufi senantiasa berusaha mensucikan dirinya dengan melalui pelatihan-pelatihan spiritual tertentu. Dalam sejarah, istilah sufi baru dikenal setelah pertengahan abad kedua hijriah. Sebelum itu orang hanya kenal dengan kata Zuhud.
HAKEKAT
1. Akar kata haq dapat diartikan milik atau kepunyaan; benar atau kebenaran;
2. Kebenaran Illahi.
3. (Syath) Terbukanya kesadaran hamba atas kesungguhannya dalam menjalani lakuan pada perintah Gurunya yang hak dan sah bahwa hake-atnya Yang Bisa Yang Kuat, Yang Memiliki Segala Maujud, Yang Berbuat, Yang Handphone, bahkan yang Ada dan Wujud hanyalah DiriNya Dzat Yang Al Ghaib Yang Allah asmanya.
4. (Syath) Hati nurani, roh dan rasa yang telah bekerja untuk selalu mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Dzat Al Ghaib dan Mutlak adanya.
HAKIKAT Dalam Tasawuf
Hakikat adalah keseimbangan kata syariat yang identik / terikat dengan aspek spiritual dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat, seseorang harus dimulai dengan aspek akhlak yang diikuti dengan aspek ibadah. Kapan kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan ia akan dapat meningkatkan kondisi mental seseorang dari tingkat rendah secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia benar-benar dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihatNya dengan mata hatinya. Di kalangan Sufi orang yang telah mencapai tingkatan ini disebut anggota hakikat. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, hakikat adalah sifat-sifat Allah SWT, sedangkan Zat Allah disebut al-Haqq.
Sufi yang dikenal dengan paham hakikat adalah Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang pernah menyatakan "Ana al-Haqq".
MAKRIFAT
1. Mengenal dan mengetahui berbagai ilmu secara ringkas dan mendalam;
2. Pengetahuan Illahi. Pengetahuan hakiki yang datang melalui "penyingkapan", "kesaksian", dan "cita rasa" (dzauq). Pengetahuan ini berasal dari Allah.
3. (Syath) Menyaksikan (melihat dengan jelas dan nyata) kepada Ada dan Wujud DiriNya Dzat yang di muka bumi Al Ghaib. Kejadiannya hanya terjadi di alam pati. Ditarik Allah membuktikan fana dzat. Karena itu sama sekali tidak bernafas dan rasa seyakinnya merasakan Wujud DiriNya.
by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 10:21 AM
Siapa yang menemukan kebenaran, pasti akan menemukannya. Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), yaitu pengalaman Salman Al Farisy
Marilah kita centang Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, rinci dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw.
Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhuma berkata, "Salman al-Farisi Radliyallahu' Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman," Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak lahir. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga karena teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.
Aku mengabdi dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami agar api tersebut menyala.
Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Karena itu ia tinggal di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapak pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Ia berkata kepadaku, "Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapak.''
Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang shalat. Suara itu sangat menarik perhatianku.
Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Karena selama ini aku dikurung ayah di rumah, tidak bisa bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka shalat dan ingin bergabung.
Kataku, "Demi Allah! Ini lebih bagus dari agama kami." Aku tidak beranjak dari gereja itu sampai petang. Sehingga aku lupa untuk ke kebun.
Aku bertanya kepada mereka, "Dari mana asal agama ini?"
"Dari Syam (Suriah)," jawab mereka.
Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.
Jawabku, "Ya, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka shalat. Belum pernah aku melihat cara orang shalat seperti itu. Karena itu aku berada di gereja mereka sampai sore."
Bapa menasehati akan perbuatanku itu. Katanya, "Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!"
Jawabku, "Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita."
Bapa khawatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Karena itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.
Ketika aku mendapat kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memberitahukan kepadaku andai ada kafilah yang akan ke Syam untuk memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang ke mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.
Maka aku berusaha untuk membebaskan diri dari rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.
Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, "Siapa kepala agama Nasrani di sini?"
"Uskup yang menjaga" jawab mereka.
by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 10:08 AM
JALAN ke hadrat Illahi
Ada tiga jalan ke Hadrat Ilahi yaitu:
- Jalan Adabul Syari'at
- Jalan Adabul Hidmat
- Jalan Adabul Haq
Jalan Adabus Syari'at adalah mematuhi segala 10 hukum-hukum Tuhan. 5 hukum syariah yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus. 5 hukum wad'e yaitu Persyaratan, sebab, mani' (penghalang), sah dan batal. Sebagaimana Firman Allah Taala berarti:
Barangsiapa membuat membuat kejahatan walau sebesar zarrah sekalipun Allah terima, dan barangsiapa membuat kebajikan sebesar zarrah sekalipun Allah terima juga.
Jalan Adabul hidmat adalah membersihkan hati selain Allah SWT, apakah pada pekerjaan duniawi atau akhirat tanpa meminta balasan.Firman Allah Taala berarti:
Dan Allah Taala yang menjadikan kamu dan perbuatan kamu.
Jalan Adabul haq adalah kita melihat dengan mata lahir dan mata hati dan mata sir melalui wujud Allah. Firman Allah Taala berarti:
Barang di mana kamu hadap, di sana ada ada Allah.
Cara-cara mencapai jalan ini
Harus kita menuntut 3 jenis ilmu yaitu:
- Ilmu Fiqh
- Ilmu Usuluddin
- Ilmu Tasawwuf
Mengapa kita harus menutut ketiga jenis ilmu ini???
by Ilmu Tasawuf | 
in
tasawuf
at 9:56 AM
SYAIKH Qasim IBN MUHAMMAD IBN ABU BAKAR AS-Siddiq
Syaikh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq diturunkan dari Abu Bakar as-Siddiq pada sisi ayahnya dan dari Ali bin Abi Thalib disisi ibunya. Beliau dilahirkan pada hari Kamis, di bulan suci Ramadhan.
Hal ini diceritakan bahwa ia berkata, "Datuk saya, Abu Bakar as-Siddiq, sendirian dengan Nabi di Gua Abu Tsaur selama migrasi dari Mekah ke Madinah, dan Nabi berkata kepadanya: 'Anda telah bersama saya sepanjang hidup Anda dan kamu telah melakukan segala macam kesulitan. Dan sekarang saya ingin Anda untuk membuat permohonan untuk meminta kebaikan Tuhan pada Anda. Abubakar lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, Anda adalah rahasia jiwa saya dan rahasia hatiku .. Anda lebih tahu apa yang saya butuhkan.' "
Nabi mengangkat tangannya dan berkata, "Ya Allah, selama saya hukum Ilahi untuk Hari Pembalasan semoga Tuhan memberikan bahwa di antara keturunan Anda adalah mereka yang membawanya dan orang yang mewarisi rahasia batin, dan memberikan bahwa di antara keturunan Anda adalah mereka yang berada di jalan yang lurus dan mereka yang membimbing untuk itu. "
Jawaban pertama yang meminta dan yang pertama untuk menerima berkat adalah Sayyidina Qasim. Pada waktu ia dikenal di Madinah sebagai Abu Muhammad. Orang-orang datang untuk mendengarkan bimbingan, kuliah (suhba) dan pengungkapan tentang makna yang tersembunyi dari Quran. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq adalah salah satu dari tujuh anggota hukum yang paling terkenal di Madinah, yang paling luas di antara mereka. Hal itu melalui tujuh Imam besar.
Dia bertemu beberapa tabiin dari sahabat, termasuk Salim bin Abd Allah ibn Umar.
Dia adalah seorang imam yang saleh dan sangat berpengetahuan. Abu Zannad berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih baik dari dia dalam mengikuti Sunnah Nabi. Dalam waktu kita tidak ada seorangpun yang dianggap sempurna sampai dia sempurna dalam mengikuti Sunnah Nabi, dan Qasim adalah salah seorang pria sempurna."
Abdur-Rahman bin Abi Zannad mengatakan bahwa ayahnya berkata, "Aku tidak melihat siapa pun yang mengetahui sunnah lebih baik dari Al-Qasim."
Abu Nuaym berkata tentang dia dalam bukunya al-Awliya Hilyat: "Dia mampu mengtafsir hukum terdalam dan ia tertinggi dalam hukum dan etika."
Imam Malik meriwayatkan bahwa Umar bin Abdul-Aziz, yang dianggap sebagai khalifah benar pembimbing kelima, berkata, "Jika ia adalah di tangan saya, saya akan membuat al-Qasim khalifah di waktu saya."
Sufyan berkata, "Beberapa orang datang ke al-Qasim dengan amal yang didistribusikan. Setelah ia didistribusikan itu, ia pergi untuk berdoa. Sementara ia berdoa, orang-orang mulai berbicara negatif tentang dia. Putranya berkata kepada mereka, 'Anda sedang berbicara di belakang seorang pria yang didistribusikan uang Anda dan tidak mengambil satu dirham dari itu untuk dirinya sendiri. "Cepat ayahnya memarahi dia berkata," Jangan bicara, tapi tetap tenang. ' "Dia ingin mengajar anaknya untuk tidak membela dirinya, sebagai satu-satunya keinginan adalah untuk menyenangkan Allah. Dia tidak peduli terhadap pendapat orang.
Yahya bin Sayyid berkata, "Kami tidak pernah ditemukan, pada waktu kita di Madinah, orang yang lebih baik dari Al-Qasim."
Ayyub as-Saqityani berkata, "Aku tidak melihat orang lebih baik dari Imam Qasim. Dia meninggalkan 100.000 dinar kepada masyarakat miskin ketika dia meninggal, dan itu semua dari penghasilan yang sah."
Salah Satu Keajaiban-Nya
Syaikh Syarafuddin dan penggantinya, Syaikh Abd Allah ad-Daghestani menceritakan kisah berikut:
Pada tahun di mana Abu Muhammad Qasim meninggalkan dunia ini, di ketiga Ramadhan beliau melanjutkan ziarah. Ketika ia tiba di al-Qudayd, dimana peziarah biasanya berhenti, Allah membuka tabir untuk melihat para malaikat turun dari surga dan naik dalam jumlah yang tak terhitung jumlahnya. Mereka akan turun, mengunjungi tempat ini, dan kemudian pergi kembali. Saat ia melihat malaikat-malaikat ini membawa berkat-berkat yang Allah mengirim seluruh dengan mereka, maka seolah-olah bahwa kekuatan cahaya dan terkonsentrasi dituang ke dalam hatinya langsung, mengisinya dengan ketulusan dan kesadaran.
Begitu terjadi, ia tertidur. Dalam mimpi dia melihat Abu Bakar as-Siddiq datang kepada-Nya. Dia berkata, "Wahai Datuk saya, yang makhluk surga yang turun dan naik dan yang telah mengisi hatiku dengan kesadaran Tuhan?"
Abu Bakar as-Siddiq menjawab, "Malaikat yang kamu lihat naik dan turun, Allah telah diatur untuk kuburan Anda. Mereka terus-menerus mengunjungi. Mereka mendapatkan berkat dari mana tubuh Anda akan dikebumikan di bumi. Untuk menghormati kamu, Allah memerintahkan mereka untuk turun dan meminta berkat untuk Anda. Oh cucu saya, jangan lalai pada kematianmu, ia akan datang segera dan Anda akan diangkat ke Hadirat Ilahi dan meninggalkan dunia ini ".
Qasim membuka matanya dan melihat kakeknya di depannya. Dia berkata, "Saya hanya melihat Anda dalam mimpi.". Abu Bakar as-Siddiq menjawab, "" Ya, aku diperintahkan untuk bertemu dengan kamu. "Itu berarti aku akan meninggalkan dunia ini," jawab Qasim. "Ya, Anda akan meninggalkan dunia dan menemani kita untuk akhirat," kata guru kami Abu Bakar as-Siddiq.
"Apakah hal yang Anda sarakan saya lakukan pada saat-saat terakhir saya di bumi?" Tanya Qasim kepada kakeknya.
Abu Bakar as-Siddiq menjawab, "Wahai anakku, menjaga lidah Anda dibasahi dengan dzikrullah dan menjaga hati Anda dan hadir dengan zikrullah. Itu adalah terbaik yang pernah Anda dapat mencapai di dunia ini."
Lalu Abu Bakar mulai menghilang dan Qasim dzikir di lidah dan di dalam hatinya. Ia melanjutkan ke Mekkah dan melihat berdiri di Gunung Arafah (yang terjadi pada setiap tahun pada tanggal 9 Zulhijah). Baik pria maupun wanita, secara rohani hadir di Arafah, dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq bertemu dengan mereka.
Bila mereka berdiri, mereka semua mendengar Dataran Arafat dan gunung yang menangis sedih. Mereka bertanya Gunung Arafat, "Mengapa engkau menangis seperti ini?" Dan Gunung Arafat menjawab, "Aku dan semua malaikat menangis, karena hari ini bumi ini akan kehilangan salah satu tiang."
Mereka bertanya, "Siapa tiang bumi?" Gunung Arafat menjawab, "Abu Muhammad Qasim akan meninggalkan dunia ini, dan dunia tidak akan lagi dihargai dengan langkah-langkah, dan Aku tidak akan lagi melihat dia di dataran saya, dimana semua peziarah datang, dan saya akan merindukannya. Itulah sebabnya aku menangis dengan cara ini. Tidak hanya dari diriku sendiri, tetapi kakeknya Muhammad, dan kakeknya Abu Bakar, dan kakeknya Ali, dan seluruh dunia menangis. Mereka mengatakan kematian seorang ulama adalah kematian dunia. "
Pada saat itu Nabi dan Abu Bakar as-Siddiq secara rohani hadir di Arafah, di mana mereka menangis. Nabi berkata, "Dengan kematian Qasim korupsi besar akan muncul di bumi, karena ia adalah salah satu tiang bisa mencegahnya."
Sebelumnya, yang menangis sedih oleh Gunung Arafat hanya terjadi ketika Nabi wafat dari dunia ini, maka ketika Abu Bakar berlalu, maka ketika Salman berlalu, dan ketika Qasim berlalu. Salah satu orang suci, Rabia al-Adawiyya, bertemu Qasim dalam alam rohani, orang-orang suci dan dia berkata, "Setiap hal-hal dan kering hidup, aku mendengar mereka menangis. Mengapa, Oh Rabia, hal ini terjadi? Saya pernah mengalami seperti menangis dalam hidupku. Apakah kamu tahu penyebabnya? Dia menjawab, "Wahai Abu Muhammad, saya juga tidak dapat membedakan sifat yang menangis, sehingga Anda harus bertanya datukmu, Abu Bakar. "
Abu Bakar muncul secara rohani kepada mereka, lalu berkata, "ia menangis dari setiap titik di bumi ini adalah karena Anda meninggalkan kehidupan duniawi ini, karena saya memberitahukan pada ziarah Anda." Qasim mengangkat tangan dan berdoa kepada Allah, "Karena saya meninggal dari kehidupan ini, memaafkan siapa pun berdiri dengan saya di Gunung Arafat" Kemudian mereka mendengar suara berkata, ". Demi Anda, Allah telah mengampuni siapa pun berdiri dengan Anda di Gunung Arafah pada haji "Pada. saat itu Allah yang diwahyukan kepada Qasim.
Kemudian ia berangkat dari Gunung Arafat dan berkata, "Wahai Gunung Arafat, jangan lupa saya di Hari Penghakiman. Semua orang suci dan semua nabi berdiri di sini dan jadi aku meminta Anda untuk tidak melupakan aku pada Hari Penghakiman. Lalu gunung besar menjawab," Wahai Qasim., "Dengan suara keras yang semua orang bisa mendengar," Jangan lupakan aku pada hari kiamat. Jangan lupa aku. Biarkan aku menjadi bagian dari transisi Nabi. "
Pada saat itu Qasim di Gunung Arafat dan tiba di Makkah al-Mukarrama, di Ka'bah. Di sana ia mendengar tangisan datang dari Rumah Tuhan dan semakin kuatiunya ketika ia mendekatinya, dan semua orang mendengarnya. Itu suara Ka'bah, menangis perginya Qasim dari dunia ini.datang seperti banjir, banjir air mata mengalir keluar dari Ka'bah,
Rumah Tuhan berkata, "Wahai Qasim! Aku akan merindukanmu dan saya tidak akan melihat Anda lagi di dunia ini" Kemudian Ka'bah membuat 500 putaran sekitar Qasim untuk menghormati dia. Setiap kali mengunjungi orang suci ke Ka'bah ia menjawab salam yang suci mengatakan, "Wa` alayka as-salam ya wali-Allah, "" dan ke atas kamu damai, teman Allah. "
Lalu kata Qasim perpisahan ke Hajar al-Aswad, kemudian ke Jannat al-Mualla, pemakaman di mana Khadijah al-Kubra, istri pertama Nabi, dikuburkan, dan kemudian ke seluruh Mekah. Dia kemudian meninggalkan dan pergi ke al-Qudayd, sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah, pada tanggal 9 Muharram, di mana ia diwariskan kehidupan berikutnya. Tahun ini 108 (atau 109) H/726 M, dan dia adalah berumur tujuh puluh tahun. Dia mencurahkan rahasia dari Rantai Emas Naqsybandi untuk penggantinya, cucunya, Imam Jafar as-Sadiq.
by Ilmu Tasawuf | 
in
wisata
at 9:39 AM
Kita selalu merujuk diri kita AKU. Kita berkata, "Ini Aku", "Ini Aku punya", "Ini tubuh Aku", "Nama Aku si-anu", dan "Nama ayah Aku si-anu", dan sebagai nya.
Pernahkah kita berpikir siapakah AKU kita itu? Apakah AKU kita itu? Siapa sebenarnya AKU itu?
Maka di sini penulis untuk menguraikan berkenaan AKU ini menurut pendapat dan pandangan Filsafat kesufian
Risalah ini berisi penjelasan tentang AKU. Dari penjelasan atau penjelasan ini pembaca akan dapat sedikit banyak informasi tentang apa dan siapa sebenarnya AKU kita itu.
Selamat membaca dan memahaminya.
Penjelasan ke 1 (SIAPAKAH AKU)
Pernahkah Anda berpikir siapakah AKU itu?
Pernahkah Anda terbayang apakah AKU kita itu?
Sebenarnya AKU kita ini adalah ROH kita, bukan badan kasar ini. Badan kasar ini akan mati jika tidak ROH. Jika tidak ROH, badan kita akan hancur binasa.
ROH kita inilah diri kita yang sebenarnya,. ROH ini hidup dan tidak akan mati. ROH inilah juga zat diri kita.
ROH ini juga limpahan Yang Maha Hidup yaitu Allah SWT. Allah itu hidup. Dia memiliki sifat hidup. Maka hidup (ROH) kita adalah limpahan dari hidup Allah itu.
ROH ini juga digelar "bayangan" Yang Maha Hidup itu. ROH itu bayang kepada Yang Empunya Bayang. Yang Empunya Bayang itu adalah Allah, dan ROH kita itu adalah "bayangan" Allah itu. Demikian pendapat-pendapat anggota-anggota Sufi.
Allah itu tidak kelihatan, Maha Gaib dan tidak ada satu pun yang seperti denganNya. Bagaimana kita dapat tahu adanya sesuatu yang tidak terlihat dan tidak terperikan. Ibarat angin, kita tidak nampak angin, tetapi bagaimana kita tahu angin sedang bertiup dan angin itu ada? Jawabnya, kita tahu adanya angin itu karena ada dampaknya. Kapan daun pohon bergoyang, kita tahu angin sedang bertiup. Kalau kita rasa hembusan, maka itu adalah hembusan angin, dll. Goyangan daun dan rasa hembusan itu adalah tanda-tanda adanya angin. Kita tidak nampak angina tetapi kita tahu adanya angina melalui tanda-tandanya.
Demikian juga keadaannya dengan Allah SWT. Kita tidak nampak Dia, tetapi kita rasa dan percaya adanya melalui tanda-tandanya. Tanda-tanda Allah itu adalah alam semesta raya ini. Tanda-tanda ini dalam bahasa Arab adalah "ayat".
Oleh itu, alam semesta raya dan diri kita ini adalah ayat-ayat Allah belaka.
ROH sangat tinggi martabatnya, melebihi tingkat malaikat. Tempatnya di sisi Allah yang Maha Tinggi. ROH inilah yang mengenang Allah (dzikrullah) seolah-olah kerjanya mengenang Allah saja. Seolah-olah makan minumnya "zikrullah" saja.
ROH yang suci ini senantiasa mentauhidkan Allah Yang Maha Suci. Najis padanya adalah menyekutukan Allah. ROH ini sangat cinta kepada Allah SWT. Ia memuja dan memuji Allah selalu. Allah itu kekasihnya. Cukuplah Allah itu baginya.
Demikian hubungan Allah dengan ROH, menurut pandangan ahli-ahli Sufi.
Penjelasan ke-2 (AKU IALAH ROH)
Tahukah Anda bahwa AKU Anda itu adalah ROH yang datang dari Allah, hidup dengan Allah, dan kembali kepada Allah. Allah itulah pangkalan tempat bertolak, lautan yang dilayari dan pelabuhan tempat berhenti.
Jika dikaji dalam-dalam Anda akan sadar dalam pandangan spiritual bahwa Allah itu adalah tempat awal perjalanan kita. Dialah tempat perjalanan itu sendiri, dan Allah itu jugalah tujuan akhir perjalanan hidup ini.
Tempat bertolak, perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan disini bukanlah dari segi pandangan fisik yang tunduk kepada ruang dan waktu. Tempat perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan di sini iailah dari segi pandangan spiritual, perasaan dan khayali (thought) kita.
AKU atau ROH kita adalah tanda-tanda atau ayat-ayat Allah. ROH itu juga bayangannya dan penzahiranNya. Dari segi pandangan spiritual, Allah itulah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Batin dan Yang Zahir.
Penjelasan ke-3 (PANDANGAN AKU)
AKU yang paling dalam itu bersifat spiritual. Jika AKU itu dibersihkan pandangannya melalui dzikrullah dan pelatihan spiritual orang-orang Sufi, maka AKU itu akan mencapai satu tahap pandangan dimana ia rasa ada yang adalah Esa juga. Menurut pandangan ini, ada itu ada bertingkat-tingkat, bertahap-tahap, dan berbagai aspek, namun ia tetap satu. Segala yang ada terlihat, baik yang lahir maupun yang batin, semuanya satu wujud saja, pada hakikatnya. Inilah pandangan AKU yang paling dalam.